(sangat - sangat diperbolehkan untuk membajak, mencuri dan memanfaatkan isi dalam blog ini sepuas -puasnya )

" MASYARAKAT ANARKISME adalah dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab."


April 3, 2007

REVOLUSI PRANCIS

Doug Lorimer

Pelajaran-Pelajaran dari Revolusi (yang gagal) 1968

( tapi menurut saya ini revolusi yang paling sukses sepanjang sejarah. : ed)

Revolusi Perancis di tahun 1968 dimulai pada bulan desember 1967 dengan pemogokan delapan sekolah tinggi/lanjutan (setingkat SLTA) untuk mensupport sebuah demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang memotong anggaran jaminan sosial. Aksi tersebut diiukuti oleh sekolah-sekolah lainnya di bulan Januari 1968, mereka (para demonstran), di aksi lanjutan ini, melakukan protes atas dikeluarkannya para aktivis dari sekolah.

Para siswa yang dikeluarkan adalah anggota dari the Jeunesses Communistes Revolutionnaires (JCR), sebuah organisasi pemuda sosialis revolusioner yang bergabung dengan Internasionale ke Empat.

JCR, yang mengadakan konferensi yang di hadirir 120 aktivis kampus dan sekolahan di bulan april 1966, adalah sebuah kekuatan politik sentral dalam radikalisasi di kalangan mahasiswa dan pelajar (selanjutnya disebut studen) Perancis.

Radikalisasi ini dipenuhi dengan membesarnya perasaan tidak puas atas sistem pendidikan yang ada.

Dalam tahun-tahu setelah Perang Dunia II, ada perkembangan yang cukup mencolok dari mahasiswa yang ada di Universitas-universitas di Perancis : dari 123.000 di tahun 1946 menjadi 514.000 ditahun 1968. Dalam buku Revolusi Perancis 1968 yang diterbitkan di tahun yang sama, jurnalis koran London Observer Patrick Seale dan Maureen McConville menjelaskan konsekuensi dari hal tersebut :

“Jumlah tekanan yang besar (the sheer persure of number) menghapuskan segalanya. Dibawah beban, universitas-universitas, dan terutama sekali Sorbonne, mengubah karakter mereka dari klub kecil yang elitis menjadi inefisien, pabrik yang jorok dari pendidikan, dimana semuanya dikorbankan untuk problem kecil yang melibatkan semua orang…”

Ketika kondisi ini menjadi basis untuk pembesaran dari ketidakpuasan, ada sikap oposisi terhadap perang yang dilakukan imperialis untuk melawan revolusi vietnam, yang mana hal tersebut merubah ketidakpuasan-ketidakpuasan menjadi sebuah radikalisasi yang massif melawan masyarakat borjuis sebagai kesatuan.

Seale dan McConville memberikan penjelasan yang sangat gamblang atas peranan Gerakan Anti Perang Vietnam dalam perkembangan aktivitas politik para studen. Mereka menulis :

“Salah satu dari pemangdangan yang mengejutkan dari Revolusi mai adalah ketika para studen meriakkan slogan : KEKUASAAN ADA DI JALANAN BUKAN DI PARLEMEN ! Ini adalah sebuah fenomena yang membuat pemerintahan barat (western) menggigil : ini semua adalah sebuah penolakan atas institusi-institusi politik yang sangat elitis dan nilai-nilai yang di tanamkan oleh orang tua mereka…”

“Dari bulan desember 1966, serombongan Comites Vietnam lyceens (CVLs) – komite sekolah untuk Vietnam-dibentuk di Perancis. Mereka adalah bagian kecil dari kelompok ( yang ) berselisisih dengan organisasi sekolahan Partai Komunis Perancis (CPF)…karena mereka berpendapat kebijakan CPF atas Vietnam sangat jinak atau moderat sekali…”

Partai Komunis (selanjutnya kita sebut CP), seperti Partai Stalinis lainnya di dunia, berpihak pada sikap “perdamaian” yang abstrak atau negosiasi, dari pada menyuruh para imperialis untuk minggat dan membiarkan penduduk Vietnam untutk menentukan nasibya sendiri.

Seale and McConville menuliskan bahwa CVLs telah diinisiasi dan di gabungkan kedalam Committee Vietnam National (CVN) :

Pada musim gugur tahun 1966, JCR dan sekutu-sekutunya, seperti beberapa “Castrois”, the Parti Socialiste Unifie (PSU), dan sebuah kelompok sayap kiri yang melepaskan diri dari grup sosialis, membentuk sebuah organisasi front Vietnam yang bertujuan untuk mendapatkan opini publik yang lebih besar. Organisasi tersebut bernama Committee Vietnam National (CVN)…beberapa (a litter) komite CVN tumbuh di sekolah dan, meskipun beroposisi dengan kepala sekolah, mereka mampu membuktikan kesuksesan-nya dalam pemobilisasian massa. Karena hal tersebutlah kubu politik sayap kiri memutuskan untuk memobilisasi mereka dalam setiap aksi-aksi politik.

Dari komite-komite sekolah untuk Vietnam itulah CALs (semacam serikat pelajar radikal) terbentuk. “CVLs”, dijelaskan oleh Seale dan Mconville,” menyediakan infrastruktur bagi pembangunan CALs, dari protest mengenai Vietnam menjadi aksi-aksi terhadap persoalan-persoalan yang ada di Perancis secara spesifik”.

Berikut penjelasan dari proses ini :

“Serikat Buruh Perancis, UNEF (serikat mahasiswa nasional) dan serikat pelajar mengadakan aksi mogok pada 13 Desember 1967. Aksi ini dilakukan untuk memprotes kebijakan pemerintah yang memotong anggaran jaminan sosial. Yang mengejutkan dalam aksi ini adalah bergabungnya hampir separo penduduk kota Paris…Di bulan Januari 1968, Roman Goupil-seorang pelajar yang masih berumur 16 tahun- yang mengorganisir aksi di Lycee Condorcet, dikeluarkan dari sekolah dengan alasan dia telah menghasut kawan-kawannya agar meninggalkan kelas dan bergabung dalam aksi..para pemimpin dari CVLs berdiskusi melalui telepon dan membahas rencana mereka selanjutnya untuk menyikapi kasus ini. Mereka memutuskan untuk mengadakan aksi, ratusan massa berpartisipasi dalam aksi tersebut dan meriakkan yel-yel tuntutan tentang kekebasan dalam berekspresi (Freedom of expression in the lycees), yang tampaknya yel-yel tersebut sangat mudah untuk dipahami seperti yang diyakini oleh para pemimpin komite…”

Tanggal 22 Maret 1968 polisi menangkap lima orang aktivis anti-perang setelah peristiwa pemboman Bank Amerika di Paris. Dan di siang yang sama ratusan mahasiswa menduduki gedung admisnistrasi di Nanterre untuk memprotes penahanan tersebut. Kemudian Dekan merespon itu semua dengan menghentikan semua kegiatan perkuliahan. Semenjak kejadian itu tiada hari tanpa aksi dan demonstrasi di Nanterre.

Sebuah kampanye untuk memboikot ujian di luncurkan. Tanggal 2 dan 3 mei direncanakan sebagai “Hari Studi Anti-Imperialis” di Nanterre. Sekali lagi, penguasa kampus mengalami kepanikan dan akhirnya mereka menutp kampus.

Tanggal 3 mei, para mahasiswa di Sorbonne dan CALs di beberapa sekolah atas di Paris menyatakan solidaritasnya atas kejadian yang menimpa kawan-kawan mereka di Nanterre. Dan di sore yang sama ratusan mahasiswa dan pelajar yang melakukan demonstrasi harus berlarian untuk menghindari tindakan brutal dari polisi.

Seale dan McConville menulis :

“ Pertempuran jalanan di 3 mei, yang mengikuti invasi dari polisi ke Sorbonne, mengakibatkan effek yang sangat hebat bagi orang-orang muda. Kegiatan di kelas-kelas menjadi terhenti karena para pemuda itu ingin mendiskusikan situasi yang sedang terjadi, kemudian mereka mulai menggabungkan diri dengan demonstrasi-demonstrasi yang ada, walaupun banyak juga yang terluka setelah berpartisipasi dalam demo-demo tersebut. Tanggal 10 May CALs mengadakan aksi mogok serentak seharian penuh di Paris. Aksi ini diikuti kurang lebih 8-9 ribu partisipan, mereka berjalan untuk menemui senior mereka yang sudah lebih dudlu melakukan aksi besar dan berakhir pada barikade…”

“Setelah Sorbonne diduduki, CALs mengambil alih Grand Amphitheathre untuk rapat umum di 19 mei. Dan setelah pertemuan tersebut mereka memutuskan untuk mengadakan aksi mogok serentak dan menduduki sekolah-sekolah. Hari selanjuttnya gerakan ini diikuti dengan massa yang lebih besar lagi, guru-guru mulai bergabung dan menghabiskan malam-malam mereka bersama-sama dengan para demonstran. Komite-komite juga mengdakan diskusi-diskusi yang tidak hanya membahas tentang problem sekolah dan kampus saja tapi juga membahas permasalahan-permasalahan politik, dengan topik-topik seperti perjuangan studen di eropa, aturan-aturan kampus di masyarakat, jarinan buruh-studen, dll…”

Hasil yang sama juga didapatkan oleh para pemimpin-pemimpin mempunyai ploitical advanced di kampus selama pendudkan itu.

Tapi sebagaimana Seale dan McConville berkomentar di bukunya :

“Para buruh tidak bergabung dengan aksi protes nasional yang dilakukan oleh studen, meskipun kejadian mei mempunyai effek yang sangat signifikan bagi ledakan-ledakan studen di Berlin, Roma atau Buemos Aires. Benar-benar situasi yang sangat kontradiktif…dimana para studen memberikan sesuatu yang dicontoh secara cepat oleh kawan-kawan mereka di lain negara, membawa krisis ini ke level yang lebih tinggi. Akan tetapi para pekerja tetap dengan tenang bekerja dan menunci gerbang mereka rapat-rapat…”

Di tanggal 7 mei, 30.000 menduduki jalan-jalan di kota Paris selama lima jam penuh, menuntut agar kampus dibuka kembali dan para aktivis yang ditahan di bebaskan.

Sebuah pelajaran bagi massa aksi berhasil dipetik di tanggal 9 mei di daerah Latin Quarter, daerah sekitar Sorbonne. Ketika itu massa memaksa untuk bertahan sampai besok, jumat 10 mei, dan kejadian itu menjadi terkenal dengan sebutan malam barikade-barikade (night of barricades) ketika 35.000 demonstran merusak barikade dan terjadi perang batu dengan CRS (polisi anti huru-hara perancis).

Sekitar 400 studen masuk rumah sakit. Dan banyak lainnya yang terluka akibat tindakan CRS. Meskipun begitu, para studen tidak kalah. Masyarakat mengecam tindakan brutal polis-yang ditayangkan oleh stasiun televisi- dan mendesak pemerintah untuk memenuhi tuntutan studen.

Tanggal 11 mei, para pemimpin buruh dari tiga konfederasi serikat buruh merespon opni publik yang sedang berkembang atas tindakan represif yang dilakukan polisi, dan mereka merencanakan aksi mogok nasional selam 24 jam penuh yang akan diadakan pada hari senin tanggal 13 mei.

Di hari itu sekitar satu juta buruh dan studen berjalan menuju kota Paris. Kontingen studen secara eksplisit menyatakan unutk mengakhiri kepemimpinan rezim semi bonarpatis Charlesde Gaulle sambil menyanyikan lagu “sepuluh hari sudah cukup”. Bendera Tricolore diturunkan dari gedung-gedung pemerintahan dan diganti dengan bendera MERAH. Akan tetapi aksi di 13 mei ini tidak direspon lebih lanjut oleh para aristokrat-aristokrat serikat buruh dan mereka pun kecuali perintah unutk membubarkan diri.

Bagaimanapun, aksi para pekerja tersbut telah membesarkan hati para studen, dan sekita 20-25 ribu buruh bertemu dan memutuskan untuk bergabung dengan para studen dan menguasi Sorbonne.

Tanggal 14 mei para pekerja kembali ke pabriknya masing-masing, tapi mereka kembali dengan rasa percaya terhadap kekuatan dari mobilisasi massa. Kejadian ini terutama sekali dialami para buruh-buruh muda, yang banyak dari mereka telah bergabung dalam aksi protes studen mulai tanggal 3-10 dan ikut bertempur bersama studen di malam barikade.

Secara spontan, para pekerja mulai mengambil alih pabrik. Di 14 mei para pekerja pabrik SudAviation di Nanterre mengunci manajern di ruang kerjanya dan menyatakan mereka telah mengambil alih pabrik.

Dihari yang sama, para pekerja pabrik Renault meninggalkan peralatannya dan mendeklarasikan perebutan pabrik. Besoknya mogok menjalar ke dua pabrik renault l;ainnya dan sorenya pabrik tersbesar renault di Parisian suburban dari Biliancout tidak bisa menjalankan prose produksi karena 30 ribu pekerjanya melakukan aksi mogok.

Dari kejadian tersebut, aksi mogok terjadi di hampir seluruh daerah di peranci. Sebagaimana yang dikatakan seorang buruh mudsa renault : “Para studen memulai kereta berjalan, dan kita berterima kasih. Ketika kita melihat kereta berhenti dan akan mulai berjalan lagi, kami mulai berelompatan unutuk naik “

Dalam waktu seminggu aksi mogok ini telah melibatkan 10 juta dari 15 juta pekerja yang ada di Perancis.

Perlawanan massa studen berperan sebagai sebuah detonator dalam sebuah pemberontakan massif para pekerja. Tapi sebuah detonator tidak akan bekerja kecuali ada bahan yang berpotensi sebagai bahan peledak. Apakah bahan yang berpotensial sebagai bahan peledak itu ?

Ketika negara-nerga industri kapitalis mempunyai pengalaman sedikitnya selama dua dekade dari pemtumbuhan ekonomi yang berlangsung secara pesat, kesenjangan sosialpun semakin lebar. Sebanyak satu juta orang dan hampir separo dari penduduk Perancis yang mempunyai pendapatan, dibayar dengan upah yang sangat rendah yang mana pendapatan tersbut hanya mencapai satu level diatas level subsistence.

Selain itu, di 1968 lebih dari satu juta orang tidak mempunyai perkerjaan atau menganggur, kesemuanya itu memukul perasaan buruh-buruh muda. Di Burgundi, sebagai contoh kecil, 25 % pemuda di bawah usia 25 th menjadi pengangguran.

Hak berserikat di pabrik-pabrik diabaikan. Satu-sarunya jalan untuk mengekspresikan ketidakpuasan adalah melalui aksi-aksi massa. Tahun 1967, di pabrik renault di Le Mann dan Caen terjadi perang batu dengan polisi selama terjadi pemogokan.

Sebagaimana diamati oleh Seale dan Mc Convile : “ Para pekerja menolak untuk mengadakan negosiasi, dan menggunakan cara-cara yang lebih keras. Ini berarti sebuah upaya pengambil alihan…”

Ketika mengambil metode aksi massa, para pekerja menggerakkan sebuah revolusi sosial yang masih yang mana mereka mempunyai potensi revolusioner yang jernih.

Ini semua adalah hasil dari fomat-format yang dibikin oleh komite-komite aksi massa yang ada di Paris. Mereka tidak hanya bermunculan di sekolah-sekolah, universitas-universitas, kantor-kantor pemerintahana, asosiasi profesional, dan tempat-tempat kerja, tapi juga di daerah-daera pemukiman.

Menurut Seale dan Mc Conville, “ Apayang menjadi gam,baran umum mereka…adalah sebuah ide tentang revolusi yang harus kamu lakukan sendiri, tanpa harus meninggalkan yang lainnya. Itu semua adalah keingnan untuk terpimpin dalam aksi-aksi ekstraparlementer “

Gerakan ini mencapai puncaknnya di minggu terakhir di bulan mei, ketika terdapat sekitar 450 komite yang ada di Paris (belum daerah lainnya). Bagaimanapu, mereka tetap terlokalisir dan hanya kehilangan koordinasi di kota-kota yang mempunyai basis besar.

Di luar paris perkembangan yang sama juga terjadi. Yang paliang bagus adalaha apa yang terjadi di Nantes, utara Brittany di 23 mei. Sebuah komite sentrak pemogokan- yang terdiri dari serikat buruh, petani dan sruden-mengadakan aksi di balai kota, dan mendeklarasikan dirinya sebagai penguaa baru kota praja tersebut.

Dan di gedung-gedung sentral pemerintahan, terutama di kota paris, sudah ditinggalkan oleh para penghuninya, hanya ada para penjaga pintu dan polisi yang kekuatannya sangat kecil.

Atas perkembangan ini, Sean dan Mc Conville menulis: “ Pemogokan yang terjadi di Nantes berubah dari yang awalnya sebuah aksi protes menjadi aksi revolusi. Disana muncul embrio-embrio pengganti institusi tua masyarakat borjuis, yang mana itu semua diparalelkan dengan aksi mogok…”

Selama seminggu, dari 24-30 mei, pemerintahan De Gaulle mengalami kegoncangan yang cukup hebat. Akan tetai sayangnya CP dan pemimpin-pemimpin serikat buruh menolak untuk melakukan penggantian-atau sebuah insureksi-pemerintahan.

Dan yang lebih parah lagi, ketika 10 juta perkerja sedang menjalankan aksi mogo, para aristokrat-aristokrat serikat buruh ini menolak rancangan diadakannnya sebuah aksi mogok nasional.Mereka membatasi diri hanya pada tuntutan ekonomis seperti kenaikan upah, jam kerja yang lebih pendek, dll. Bahkan mereka bekerja sama dengan rezim De Gaulle dengan mengatakan studen-studen yang radikal sebagai provokator.

Di 29 mei, CP dan pemimpin federasi serikat buruh (CGT) membuat aksi sejuta massa di jalan-jalan kota Paris dimana, untuk pertama kalinya, pemimpin-pemimpin Stalinis mengikuti slogan-slogan politik yang ada. Mereka juga berada di barisan yang sama dengan para demonstran yang menuntut sebuah Pemerintahan Rakyat.

Dan di saat-saat terakhir, para bangsawan-bangsawan CGT itu memerintahkan massa unutk membubarkan diri. Nggak ada lagi rally, nggak ada lagi speakers…

Malam itu De Gaulle berkonsultasi dengan para jendralnya. Sebuah rencana telah berhasil disusun, dan para tentara yang paling loyal kepadanya telah di mobilisasi. Markas besar oprasi militer mengambil tempat di Verdun. Besoknya pada pukul 04.30 pm, muncul di televisi dengan mengabarkan bahwa pertemuan nasional yang terjadi tidak berhasil menghasilkan solusi dan menawarkan pemilu unutk memilih anggota parlemen di tanggal 23 Juni.

Melihat hal itu, birokrat-birokrat CP meneriwa dengan antusias tawaran dari De Gaulle. Seminggu sebelum pemilihan,mereka (CP) brlomba-lomba dengan kubu Gaullis dan dengan yakin mengatakan bahwa mereka lah penguasa baru Perancis. Seminggu setelah pidato De Gaulle, para pekerja mencapai kata sepakat dengan para bangsawan seikat buruh. Dan pada pemilu, para pendukung De Gaulle meningkatkan support mereka terhadap pimpinannya.

Dari pertengahan mei sampai pertengahan jni 1968, Perancis di cengkeram oleh pemberontakan buruh yang hebat di dalam sejarahnya, tapi sayangnya semua itu harus di akhiri dengan pemilu yang malah memperkuat Partai-partai yang berkuasa, Banyak orang-orang kiri revolusioner menjuluki CPF sebagai pengkhianat. Tapi bagaimana sebenarnya birokrat-birokrat CPF bisa melakuakan pengkhianatan dan dari 10 juta massa yang ada hanya sedikit yang mengambil sikap oposisi ?

Inilah pelajaran yang berharga dari mei-juni 1968. Ketika kelas pekerja Perancis ambil bagian dalam aksi, dimana (peranan kelas pekerja itu) menjadi sebuah potensi dinamis revolusioner bagi mereka (kelas pekerja), tapi mayoritas kelas pekerja Perancis tidak mampu secara cepat untuk melewati batasan antara tuntutan-tuntutan mendesak yang bersifat ekonomis dan perubahan masyarakat secara radikal.

Ada kesenjangan kesadaran revolusiner (lack of revolutionary consciousness) di antara mayoritas kelas pekerja, dan mampu dimanfaatkan oleh bangsawan-bangsawan serikat buruh reformis untuk di giring ke ilusi pemilu parlementer.

Revolusi-dalam skala dan militansi yang hebat- sebagai mana di ekspresikan oleh Lenin di tahun 1902 dalam pamplet Apa yang harus dikerjakan :” Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa kelas pekerja, dengan kemampuan yang mereka miliki, mampu unutk mengembangkan kesadaran serikat buruh…”

Kesadaran sosialis revolusioner, sebagaimana ditekankan oleh Lenin, hanya dapat dipasokkan ke kelas pekerja dari luar, ketika terjadi perlawanan spontan antara kelas pekerja dengan pemerintah, melalui ideologi yang membaja dan kerja-kerja organisasi dari sbeuah Part Marxis Revolusioner.

Kekuatan marxis revolusioner Perancis di Mei-Juni 1968 hany berjumlah sekitar 300-400 orang. Mereka tidak punya kekuatan unutk menantang hegemoni ideologis yang dilakukuan para pemimpin buruh reformis.

Daniel Bensaid, dulunya adalah salah seorang pimpinan JCR dan sekarang menjadi anggota pimpinan dari Ligue Communiste Revolutionnare, juga mengungkapkan hal yang sama. Dia mengatakan :

“ Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa itu (kejadian di mei-juni’68) adalah aksi mogok besar terkhir di abad ke sembilanbelas ini. Tapi mungkin juga menjadi aksi mogok besar pertama di abad ke-21. Kita tidak tahu dan itu semua tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini…”

“…kelas pekerja telah di format sedemikian rupa selama bertahun-tahun oleh kemakmuran dan expansi dari welfarestate, seperti hak-hak yang demokratis. Tahun 1968 bukanlah sebuah krisi revolusiner seperti di 1920an, 1930an..”

“Ya, memang terdapat sebuah gerakan yang mendalam dari kelas pekerja yang mampu mengguncang borjuasi, tapi tidak terdapat faktor subyektif, tidak ada kepemimpinan revolusioner yang mengakar di kelas pekerja. Kekuatan dari birokrasi membuat kita harus melakukan sesuatu dengan tingkat kesadaran mayoritas massa kelas pekerja. Kita dapat melihatnya sekarang lebih baik..”

Sebagaiman disimpulkan oleh Bensaid,” Ada sebuah usaha untuk mendepolitisasi interpretasi atas kejadian tahun 1968. Kita harus mempertahankan makna politis yang sebenarnya dan dinamisasi di tahun 1968, tidak hanya merayakannya tapi juga haru mampu memberikan ari yang politis..”

Bagi kita sekarang, itu semua berarti melakuakn rededikasi diri kita untuk memperkuat kekuatan revolusioner yang sadar di negeri ini agar kita dapat mempersiapkan sceara lebih baik transformasi gerakan spontan kelas pekerja, yang mana mampu mengguncang para kapitalis, ke dalam sebuah perlawanan revolusioner untuk kekuasaan kelas pekerja dan sosialisme.



[1] Doug Lorimer menjabat sebagai eksekutif nasional Partai Demokratik Sosialis (DSP) Australia.

No comments:


SUB COMMANDANTE MARCOS

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional, EZLN) adalah kelompok revolusioner bersenjata yang bermarkas di Chiapas, salah satu provinsi termiskin di Meksiko. Basis anggota mereka sebagian besar adalah masyarakat adat, tapi mereka juga mempunyai pendukung dari wilayah perkotaan seperti halnya dukungan jaringan internasional. Juru bicara mereka, tapi secara teknis bukanlah pemimpin mereka yang menyebut dirinya dengan sub-comandante, adalah Subcomandante Marcos. Seluruh comandante berasal dari suku Mayan, Indian Amerika.

Banyak kalangan menganggap bahwa gerakan Zapatista merupakan revolusi pasca-modern pertama: sebuah kelompok revolusioner bersenjata yang antikekerasan yang menggunakan teknologi modern telepon satelit dan internet sebagai suatu cara untuk menggalang dukungan domestik dan luar negeri. Mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari gerakan antiglobalisasi yang lebih luas.

Zapatista menuai perhatian dunia karena daya inspirasinya yang mereka sebar sejak awal. Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat dari praktek kehidupan swadaya masyarakat adat.

Nama Zapatista diambil dari Emiliano Zapata, seorang tokoh revolusi Meksiko.

JIM MORISSON

Jim Morrison
Retrato de Jim Morrison



Kejenuhan terhadap atribut dan gaya Modern memengaruhi semua bidang. Dalam seni Andy Warhol menjadi sumber ide-ide pop art, dalam musik The Beatles mengangkat musik rock, serta musik blues mulai dihidupkan oleh orang-orang kulit putih.
Salah satu pemain dalam perkembangan musik era tersebut adalah The Doors yang beranggotakan Jim Morrison, Ray Manzarek, John Densmore dan Robby Krieger. Band ini cukup pendek umurnya — hanya empat tahun sejak dirilisnya album pertama — karena Jim Morrison sang vokalis meninggal dunia di Paris pada bulan Juli 1971 secara misterius (ada yang mengatakan overdosis LSD, misterius seperti kematian Jimi Hendrix dan Janis Joplin) dan dimakamkan di pemakaman Le Père Lachaise Cemetery, Paris. Sebelum berangkat Jim sempat menulis buku puisi dan melakukan rekaman yang kemudian dirilis menjadi album di tahun 1979 berjudul An American Prayer.

Jim yang terlahir 8 Desember 1943 sebagai James Douglas Morrison merupakan anak dari keluarga militer yang dididik sangat ketat. Salah satu kejadian yang penting bagi Jim adalah saat bepergian di New Mexico dan melihat Indian berdarah dan sekarat. Oliver Stone menggambarkan hal ini dalam filmnya yang berjudul sama — The Doors (1991), yang dibintangi oleh Val Kilmer dan Meg Ryan. Dulu saya nonton VHS-nya. Cukup mirip Val Kilmer berperan sebagai Jim hingga ada joke “Ada dua yang mirip dengan Jim Morrison: Pertama Val Kilmer dan kedua adalah Jim Morrison sendiri”.

Jim sebagai penulis lagu yang juga penulis puisi memberi warna vokal tersendiri pada grup The Doors. Lirik-lirik Jim sangat tajam dan kadang vulgar, namun inilah kekuatan The Doors di mata penggemarnya. Setiap konser yang dinanti adalah sosok Jim, aksi panggungnya selalu transenden (seperti mabuk dalam arti negatif) dan konsernya selalu berakhir dengan keributan.

Ray Manzarek yang memainkan organ membuat warna musik rock yang berbeda dengan grup musik lainnya. Instrumen organ akhirnya semakin banyak dipakai terutama pada band-band progressive rock seperti Pink Floyd, Yes dan Rush.

Momen penting lainnya pada era tersebut adalah konser Woodstock Festival di New York pada tahun 1969 yang dikunjungi 500.000 lebih penonton selama tiga hari di pertengahan Agustus. The Doors sendiri tidak ikut dalam festival ini, saya lupa karena apa, kalau tidak salah sedang menghadapi persidangan Miami karena ulahnya yang sering mabuk dan teler. Tahun 94 beberapa rekan di kampus patungan membeli film dokumenter Woodstock 1969 ini dalam bentuk Laser Disc sebanyak 3 disc (durasi film 4 jam lebih).

Berikut salah satu quote tentang dirinya sendiri:

I like ideas about the breaking away or overthrowing of established order. I am interested in anything about revolt, disorder, chaos, especially activity that seems to have no meaning. It seems to me to be the road towards freedom - external freedom is a way to bring about internal freedom.

Dan tentang kebebasan:

The most important kind of freedom is to be what you really are. You trade in your reality for a role. You trade in your sense for an act. You give up your ability to feel, and in exchange, put on a mask. There can’t be any large-scale revolution until there’s a personal revolution, on and individual level. It’s got to happen inside first. You can take away a man’s political freedom and you won’t hurt him- unless you take away his freedom to feel. That can destroy him. That kind of freedom can’t be granted. Nobody can win it for you.