(sangat - sangat diperbolehkan untuk membajak, mencuri dan memanfaatkan isi dalam blog ini sepuas -puasnya )

" MASYARAKAT ANARKISME adalah dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab."


January 17, 2008

HANYA TOPENG

TOLONG DENGARKAN APA YANG TIDAK KUKATAKAN
jangan terpedaya olehku,
jangan terpedaya wajah yang kukenakan,
karena aku memakai topeng,
aku memakai ribuan topeng.
Topeng yang takut aku merasa takut untuk melepasnya,
Dan salah satu dari topeng itu adalah wajahku sendiri.
Berpura-pura adalah seni yang menjadi ciri keduaku,
Namun jangan terpedaya.
Aku memberi kesan padamu bahwa aku terlindungi,
dengan kegembiraan dan sikap tak terganggu.
Di dalam maupun diluar,
Percaya diri adalah namaku dan ketenangan adalahpermainanku.
Tak seorangpun yang kuperlukan.
Namun jangan percayai aku,
Tolong...Wajahku mungkin terlihat mulus,
namun wajahku adalahtopengku,
Yakni topeng yang berbeda-beda dan selalu tersembunyi.
Di balik topeng ini tersembunyi rasa tidak puas,
rasatidak puas pada diri sendiri.
di balik topeng ini tinggalah jatidiriku dalamkebingungan,
dalam ketakutan.Dalam kesendirian..
Namun aku sembunyikan hal ini,
Aku tak ingin seseorang tahu akan hal ini.
Aku panik dengan pikiran kelemahan dan ketakutan yangkuperlihatkan.
Itu sebabnya dengan rasa bingung aku menciptakantopeng ini untuk bersembunyi.
Penampilan yang tenang dan rumit kulakukan, untukmembantuku berpura-pura.
Untuk menutupi dari pandangan orang-orang yangmengetahuinya.
Namun pandangan itu adalah penyelamatku,
satu-satunya penyelamatku.
Dan aku tahu hal ini,
yakni bila hal itu diikuti penerimaan.
Itulah satu-satunya hal yang dapat membebaskanku daridiriku sendiri.
Dari dinding penjara yang kubuat sendiri,
Dari penghalang yang kudirikan dengan sangathati-hati,
Itulah satu-satunya hal yang dapat meyakinkanku darihal yang tidak dapat kuyakinkan.
Bahwa aku benar-benar sesuatu yang bernilai,
Tetapi aku tidak menyatakan ini kepadamu,
Aku takut pandanganmu tidak akan diikuti penerimaandan cinta.
Aku takut kamu akan sedikit berpikir tentangku,
kamu akan tertawa,
dan tertawamu akan melukaiku.
Aku takut jauh dari lubuk yang paling dalam aku tidakpercaya,
dan kamu akan melihat itu dan menolakku.
Jadi kumainkan sebuah permainan,
permainanberpura-pura,
Dengan penampilanku yang meyakinkan di sisi luar.
Jadi ketika aku menjalankan kegiatanku,
aku terpedayaoleh ucapanku.
Tolong dengarkan dengan hati-hati dan coba dengarkanapa yang tidak kukatakan,
Apa yang ingin kukatakan namun tidak dapat kukatakan.
Siapa aku mungkin kamu bingung,
aku adalah orang yangkau kenal baik.
Karena aku adalah setiap laki-laki yang kamu temui,
dan aku adalah setiap perempuan yang kamu temui....

KEYAKINAN HIDUP

Aku mengalami banyak mimpi yang tak pernah berujudnyata,Aku melihatnya hilang dalam gelap,Namun, terima kasih Tuhan, aku cukup menyadarimimpi-mimpiku,Yang membuatku ingin terus bermimpi.Aku telah banyak berdoa, sementara doaku belum pernahterjawab,Meski aku sudah menunggu cukup lama.Namun aku yakin, jawaban akan datang bila doaku sudahcukup banyak,Untuk membuatku terus berdoa.Aku mempercayai banyak teman yang mengkhianatikuMeninggalkanku sendirian.Namun aku menemukan banyak kawan sejati,Yang dapat kupercayai.Telah banyak benih yang kutebar yang jatuh ke tanahUntuk menjadi makanan burung,Namun aku mempunyai cukup banyak benih emas ditanganku,Untuk terus kutebar.Aku mengucurkan secangkir kekecewaan dalam kesakitanDan melalui hari-hari tanpa nyanyianNamun aku mengisap cukup banyak minuman dewa darimawar kehidupan.Untuk membuatku ingin hidup lagi.....ADIOS.....GRACIAZ......

CABANG BUDAYA ATAU BUDAYA PERLAWANAN

Akhir-akhir ini kata-kata itu sangat menggugah saya untuk membuat suatu tulisan.Karena saya melihat sekarang komunitas-komunitas mulai menjadi bias,entah itu karena suatu kebosanan,atau kelatahan,atau mencari sebuah eksistensi yang salah kaprah menurut saya.Dari awal kita tahu punk / hc ato anarkisme dibentuk untuk melawan sebuah sistem atau lebih tepatnya sebagai budaya perlawanan ( counter culture ).Lebih tepatnya kita ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan dengan berkompromi terhadap kapitalisasi,atau diam saja ketika haknya diinjak-injak adalah tidak tepat, dan kita ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak seperti itu, kita punya prinsip, kita punya ide, yaitu anarkisme.Dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah masyarakat yang tanpa pemerintahan, keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspiarasi makhluk yang beradab.Tapi kenyataannya kita lihat disini mereka tidak menunjukkan hal itu,saya tidak mengatakan secara keseluruhan, tapi hampir sebagian besar, terutama di kota semarang.( Saya sebenarnya ingin ngajak haska untuk jalan-jalan ke semarang, melihat keindahan kotaku,hehehe...).Mereka seperti mengalami kebosanan,yg dikerjakan cuma nongkrong tanpa aktifitas,tidak punya schedule-schedule,ya minimal bikin tabling.itupun tidak dilakukan.malahan ada yang menurut saya cukup menggelikan, ketika mereka melihat seseorang atau segerombolan anak2 memakai atribut punk, mereka malah mentertawakan atau mengatakan "...wuih..dandanannya punk banget,malu-maluin padahal udah ga musim,,,"...?????Mereka merasa bahwa sudah cukup dengan orang mengerti mereka punk, mereka pemabuk, dan mereka liar.Tanpa mereka melakukan sesuatu yang bisa membuat orang mengerti tentang apa yang kita idam-idamkan.Tapi dilain pihak ada juga yang melakukan berbagai cara supaya orang awam mengerti bahwa punk tidak seliar dan sebrutal itu, dengan membantu gotong-royong atau mengadakan seminar tentang punk.dengan melebur ke dalam suatu masyarakat. Ini semua sebenarnya hanya menjadikan punk sebagai bagian dalam masyarkat, sebagai sebuah cabang dari suatu budaya, bukannya sebagai budaya perlawanan.Kalau sudah begini, menurut saya ini sudah terlalu jauh dari apa yang kita inginkan dari awal.Di satu pihak mereka membuat supaya punk dijauhi dengan cara yang arogan dan liar cenderung brutal, di pihak lain mereka berusaha keras meyakinkan masyarakat agar diterima dalam lingkungan masyarakat, dengan menunjukkan bahwa punk itu baik, bisa bersosialisasi, patuh pada aturan2 masyarakat.dan bisa diajak kompromi. Lalu mana budaya perlawanannya.Budaya perlawanan disini tidak harus selalu turun ke jalan melakukan aksi,tapi bisa dengan memberikan suatu gebrakan, atau terobosan yang akibatnya positif dan bisa diterima masyarakat tetapi dengan cara-cara kita sendiri.Atau melakukan suatu gerakan yang bisa membebaskan belenggu orang-orang, karena kita tahu bahwa masyarakat sudah terlalu lama terbelenggu, yang saya yakin bebenturan dengan hati nuraninya.ADIOS.....GRACIAZ....

Strategi Baru Label Rekaman "Membunuh" Artis-Artisnya

Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik. Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman. Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label). Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :) Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan. Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya. Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri. - Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman! - Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal." Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label. Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya. Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :)Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself! Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!"Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute!Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris. Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa. Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu: Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb. Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia. Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga. Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!Hope we could make real changes together. For better, not worst....Vive le rawk!

WAWANCARA WITH MARJINAL

hai teman-teman, aku lagi bikin zine neh mohon dukungannya ya untuk kemajuan scene di semarang.ntar kalo dah kelar aku kirimin ya dan minta tolong buat di bagi-in ke temen2. aku mau interview ama haska, n ama anak2 marjinal.tp tak jadiin satu aja ya soalnya materi interview-nya sama.SO....LETS GO...!!!!

1. Bisa tolong ceritain ga siapa dan apa sih sebenernya haska / marjinal itu?
Marjinal, band punk rock dari Selatan kota Jakarta, tepatnya di Setu Babakan telah berdiri sejak 11 tahun yang silam. Kalau ogut sih cuma backing soda ...eh, backing vocal Marjinal n kerja serabutan di Taringbabi, mulai bersih-bersih, ngebantu desain n dalam waktu dekat mau buka kursus creative writing di Taringbabi. Kalo aktivitas di luar sih nulis freelance untuk media atau bikin review pertunjukan teater.

2. Menurut kalian apa sih anarkisme itu?
Anarkisme, tanpa pemerintahan (kekuasaan yang terpusat n hirarkis) seperti yang kita rasakan sekarang ini-- semua ditentukan dari pusat-- dari soal duit sampai kebijakan. Kalo pemerintahan sebagai pengelola administrasi doang kita sih setuju, emang itu kan tugas pemerintah- mengelola administrasi warga agar semua lancar-lancar aja!

3. Apakah tidak terlalu utopis untuk membentuk masyarakat anarkisme sekarang ini?
Kalau mau dicermati, masyarakat Indonesia, sebagian besar kan udah anarchis by accident (belum by desain lho). Masyarakat sudah muak dengan lebijakan pemerintah yang hanya menguntungkan kroninya saja. Ketika ada Pilkada di daerah, sebagian besar tidak menggunakan hak pilihnya, kalau pun ikut kampanye... itu kan karena ada bagi-bagi duitnya, setelah dapat duit mereka datang ke TPS nyoblos seenaknya, sehingga surat suara gak terpakai. Kalau melihat kondisi di Indonesia, anarchisme bakal terwujud, sebagai desain politik. Masalahnya, selama ini para profesor/doktor dan akademisi selalu berkata bahwa anarchisme selalu dikaitkan dengan kekacauan. Khususnya di media/talk show kita sering mendengar kata anarchist selalu dikaitkan dengan kekacauan. Itu kan nggak betul! Memang ada yang terancam apabila anarchisme terwujud di sini, mereka itu adalah para komprador -kaki tangan kapitalis dan golongan yang menjungjung tinggi feodalisme. Cobalah lihat Suku Samin di Jawa Tengah dan sekitarnya... Katika mereka terancam oleh hegemoni kolonialisme Belanda dulu, mereka langsung memutuskan membangun pola hidupnya sendiri, yang tidak terkooptasi rejim kolonial. Dari bercocok tanam, panen, membangun rumah dan melaksanakan pendidikan semua dikerjakan secara gotong royong. Ini kan elemen dari anarchisme. Jadi, elemen itu ada dalam budaya kita.

4. Kita sama-sama tau bahwa kita menolak banyak peraturan yang ada, tapi kita juga tidak menutup mata bahwa suatu tatanan masyarakat anarkisme perlu adanya aturan juga, terus menurut kalian apa sih yang dimaksudkan aturan dalam anarkisme itu sendiri?
Semua peraturan itu berinduk (berasal) dari kebebasan. Kebebasan yang menciptakan keteraturan dan peraturan. Selama aturan2 itu tidak mengekang kebebasan, ya bisa kita pakai sebagai peraturan.

5. Aku liat di jakarta terjadi perdebatan masalah media, menurut kalian media yang bagaimana yang harus kita support dan media mana yang harus kita tolak?
Ya, semua harus dilihat hubungan sebab dan akibatnya, atau akibat dan sebabnya, ketika berinteraksi dengan media itu. Kalau bicara tentang gerakan punk, kita gak bisa mengabaikan peran media massa. Kita kan tahu band-band punk dari luar, seperti Sex Pistols, Ramones, Bad Religion, dlsb itu kan dari media massa, apakah itu majalah kek, koran kek, radio kek, televisi kek atau media internet. So, kenapa kita harus lari dan sembunyi ketika berhadapan dengan perkembangan media massa yang telah datang sampai ke kamar kita yang paling pribadi? Kenapa kita mesti merengek, "ooohhh... sekarang punk masuk televisi...!???" Itu kan rengekan pecundang yang akhirnya bikin bingung orang2 di sekitarnya, karena siapa tahu, dia judtru ngejogrok terus seharian di depan layar beling televisi.

6. Apa tujuan atau goal2 kalian dalam menjalani hidup kalian?
Kalau orang ngomong punk sebatas band, kita sih memaknainya sebagai jalan hidup (way of life) yang membangun karakter kita dengan kerja, karya dan imajinasi (mimpi-mimpi kita), sehingga tetap berguna sampe tua!

7. Saya pernah mendengar ada seorang " petinggi punk " jakarta yang melontarkan wacana tentang band2 yang berdedikasi dan tidak berdedikasi. Menurutmu esensialkah wacana tersebut? dan tolong berikan komentar kalian mengenai wacana tersebut?
Lucu kalau ada istilah 'petinggi' punk yang menentukan kriteria ini dan itu, yang bertindak seperti polisi. Polisi punk ini memang ada dalam scene punk di Jakarta. Tapi, sebagian besar kawan-kawan sudah tau tabiat orang ini (khususnya yang sebaya) yang emang muka tembok. Menurut gue sih, ayo semua kita serahkan kepada publik. Berwacana itu memang bagus bila disampaikan dengan argumen yang cerdas, kalo saling caci-maki lewat SMS lalu ngandelin otot doang sih itu bukan berwacana... tapi mo jadi.... (tau sendiri kan?)

8. Apa misi dan visi marjinal membentuk sebuah band?dan apa tujuannya?
Kalau ngedengerin lagu2 Marjinal, secara gak langsung kita ungkap visi dan misi kita, menyuarakan realita bersama. Kita cuma menyuarakan, apa sih kegelisahan gw, elo, kita, kemuakan dan kemarahan terhadap sistem yang makin lama memblejeti sendi2 kehidupan ini. Dengan musik kita gedor kesadaran orang untuk bangkit dan menolong dirinya (terlebih dahulu) lantas membantu orang-orang terdekat (keluarda, tetatangga, dlsb). Kita nggak bicara muluk2 kok...

9. Ceritakan sejarah berdirinya marjinal?
Maejinal didirikan 11 tahun silam, bertepatan pada Hari Ibu pada kalender nasional.

10. a. Anarkis atau komunis?
b. Komunis atau sosialis?
c. Che guevara atau gandhi?
d. Media atau anti media?
e. Anti atau tidak anti?
f. Kompromois atau taktis?
g. Marjinal atau bunga hitam? (ha...ha...ha...)
Hidup ini lebih warna-warni ketimbang dua pilihan yang disodorkan. So, mari kita saling menyelami hingga saling memahami, tak kenal maka tak sayang. Terimakasih

Itu aja pertanyaan2 tidak mutu saya, tolong di jawab secepatnya ya? dan tengkyu buat koran marjinal yang sudah mengijinkan saya memberikan kontribusi dalam bentuk tulisan yang judulnya "APALAH ARTI SEBUAH PUNK ",dan " MATINYA SEORANG IDEALIS "GRACIAZ....

SUB COMMANDANTE MARCOS

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional, EZLN) adalah kelompok revolusioner bersenjata yang bermarkas di Chiapas, salah satu provinsi termiskin di Meksiko. Basis anggota mereka sebagian besar adalah masyarakat adat, tapi mereka juga mempunyai pendukung dari wilayah perkotaan seperti halnya dukungan jaringan internasional. Juru bicara mereka, tapi secara teknis bukanlah pemimpin mereka yang menyebut dirinya dengan sub-comandante, adalah Subcomandante Marcos. Seluruh comandante berasal dari suku Mayan, Indian Amerika.

Banyak kalangan menganggap bahwa gerakan Zapatista merupakan revolusi pasca-modern pertama: sebuah kelompok revolusioner bersenjata yang antikekerasan yang menggunakan teknologi modern telepon satelit dan internet sebagai suatu cara untuk menggalang dukungan domestik dan luar negeri. Mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari gerakan antiglobalisasi yang lebih luas.

Zapatista menuai perhatian dunia karena daya inspirasinya yang mereka sebar sejak awal. Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat dari praktek kehidupan swadaya masyarakat adat.

Nama Zapatista diambil dari Emiliano Zapata, seorang tokoh revolusi Meksiko.

JIM MORISSON

Jim Morrison
Retrato de Jim Morrison



Kejenuhan terhadap atribut dan gaya Modern memengaruhi semua bidang. Dalam seni Andy Warhol menjadi sumber ide-ide pop art, dalam musik The Beatles mengangkat musik rock, serta musik blues mulai dihidupkan oleh orang-orang kulit putih.
Salah satu pemain dalam perkembangan musik era tersebut adalah The Doors yang beranggotakan Jim Morrison, Ray Manzarek, John Densmore dan Robby Krieger. Band ini cukup pendek umurnya — hanya empat tahun sejak dirilisnya album pertama — karena Jim Morrison sang vokalis meninggal dunia di Paris pada bulan Juli 1971 secara misterius (ada yang mengatakan overdosis LSD, misterius seperti kematian Jimi Hendrix dan Janis Joplin) dan dimakamkan di pemakaman Le Père Lachaise Cemetery, Paris. Sebelum berangkat Jim sempat menulis buku puisi dan melakukan rekaman yang kemudian dirilis menjadi album di tahun 1979 berjudul An American Prayer.

Jim yang terlahir 8 Desember 1943 sebagai James Douglas Morrison merupakan anak dari keluarga militer yang dididik sangat ketat. Salah satu kejadian yang penting bagi Jim adalah saat bepergian di New Mexico dan melihat Indian berdarah dan sekarat. Oliver Stone menggambarkan hal ini dalam filmnya yang berjudul sama — The Doors (1991), yang dibintangi oleh Val Kilmer dan Meg Ryan. Dulu saya nonton VHS-nya. Cukup mirip Val Kilmer berperan sebagai Jim hingga ada joke “Ada dua yang mirip dengan Jim Morrison: Pertama Val Kilmer dan kedua adalah Jim Morrison sendiri”.

Jim sebagai penulis lagu yang juga penulis puisi memberi warna vokal tersendiri pada grup The Doors. Lirik-lirik Jim sangat tajam dan kadang vulgar, namun inilah kekuatan The Doors di mata penggemarnya. Setiap konser yang dinanti adalah sosok Jim, aksi panggungnya selalu transenden (seperti mabuk dalam arti negatif) dan konsernya selalu berakhir dengan keributan.

Ray Manzarek yang memainkan organ membuat warna musik rock yang berbeda dengan grup musik lainnya. Instrumen organ akhirnya semakin banyak dipakai terutama pada band-band progressive rock seperti Pink Floyd, Yes dan Rush.

Momen penting lainnya pada era tersebut adalah konser Woodstock Festival di New York pada tahun 1969 yang dikunjungi 500.000 lebih penonton selama tiga hari di pertengahan Agustus. The Doors sendiri tidak ikut dalam festival ini, saya lupa karena apa, kalau tidak salah sedang menghadapi persidangan Miami karena ulahnya yang sering mabuk dan teler. Tahun 94 beberapa rekan di kampus patungan membeli film dokumenter Woodstock 1969 ini dalam bentuk Laser Disc sebanyak 3 disc (durasi film 4 jam lebih).

Berikut salah satu quote tentang dirinya sendiri:

I like ideas about the breaking away or overthrowing of established order. I am interested in anything about revolt, disorder, chaos, especially activity that seems to have no meaning. It seems to me to be the road towards freedom - external freedom is a way to bring about internal freedom.

Dan tentang kebebasan:

The most important kind of freedom is to be what you really are. You trade in your reality for a role. You trade in your sense for an act. You give up your ability to feel, and in exchange, put on a mask. There can’t be any large-scale revolution until there’s a personal revolution, on and individual level. It’s got to happen inside first. You can take away a man’s political freedom and you won’t hurt him- unless you take away his freedom to feel. That can destroy him. That kind of freedom can’t be granted. Nobody can win it for you.