(sangat - sangat diperbolehkan untuk membajak, mencuri dan memanfaatkan isi dalam blog ini sepuas -puasnya )

" MASYARAKAT ANARKISME adalah dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab."


January 17, 2008

CABANG BUDAYA ATAU BUDAYA PERLAWANAN

Akhir-akhir ini kata-kata itu sangat menggugah saya untuk membuat suatu tulisan.Karena saya melihat sekarang komunitas-komunitas mulai menjadi bias,entah itu karena suatu kebosanan,atau kelatahan,atau mencari sebuah eksistensi yang salah kaprah menurut saya.Dari awal kita tahu punk / hc ato anarkisme dibentuk untuk melawan sebuah sistem atau lebih tepatnya sebagai budaya perlawanan ( counter culture ).Lebih tepatnya kita ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan dengan berkompromi terhadap kapitalisasi,atau diam saja ketika haknya diinjak-injak adalah tidak tepat, dan kita ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak seperti itu, kita punya prinsip, kita punya ide, yaitu anarkisme.Dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah masyarakat yang tanpa pemerintahan, keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspiarasi makhluk yang beradab.Tapi kenyataannya kita lihat disini mereka tidak menunjukkan hal itu,saya tidak mengatakan secara keseluruhan, tapi hampir sebagian besar, terutama di kota semarang.( Saya sebenarnya ingin ngajak haska untuk jalan-jalan ke semarang, melihat keindahan kotaku,hehehe...).Mereka seperti mengalami kebosanan,yg dikerjakan cuma nongkrong tanpa aktifitas,tidak punya schedule-schedule,ya minimal bikin tabling.itupun tidak dilakukan.malahan ada yang menurut saya cukup menggelikan, ketika mereka melihat seseorang atau segerombolan anak2 memakai atribut punk, mereka malah mentertawakan atau mengatakan "...wuih..dandanannya punk banget,malu-maluin padahal udah ga musim,,,"...?????Mereka merasa bahwa sudah cukup dengan orang mengerti mereka punk, mereka pemabuk, dan mereka liar.Tanpa mereka melakukan sesuatu yang bisa membuat orang mengerti tentang apa yang kita idam-idamkan.Tapi dilain pihak ada juga yang melakukan berbagai cara supaya orang awam mengerti bahwa punk tidak seliar dan sebrutal itu, dengan membantu gotong-royong atau mengadakan seminar tentang punk.dengan melebur ke dalam suatu masyarakat. Ini semua sebenarnya hanya menjadikan punk sebagai bagian dalam masyarkat, sebagai sebuah cabang dari suatu budaya, bukannya sebagai budaya perlawanan.Kalau sudah begini, menurut saya ini sudah terlalu jauh dari apa yang kita inginkan dari awal.Di satu pihak mereka membuat supaya punk dijauhi dengan cara yang arogan dan liar cenderung brutal, di pihak lain mereka berusaha keras meyakinkan masyarakat agar diterima dalam lingkungan masyarakat, dengan menunjukkan bahwa punk itu baik, bisa bersosialisasi, patuh pada aturan2 masyarakat.dan bisa diajak kompromi. Lalu mana budaya perlawanannya.Budaya perlawanan disini tidak harus selalu turun ke jalan melakukan aksi,tapi bisa dengan memberikan suatu gebrakan, atau terobosan yang akibatnya positif dan bisa diterima masyarakat tetapi dengan cara-cara kita sendiri.Atau melakukan suatu gerakan yang bisa membebaskan belenggu orang-orang, karena kita tahu bahwa masyarakat sudah terlalu lama terbelenggu, yang saya yakin bebenturan dengan hati nuraninya.ADIOS.....GRACIAZ....

No comments:


SUB COMMANDANTE MARCOS

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional, EZLN) adalah kelompok revolusioner bersenjata yang bermarkas di Chiapas, salah satu provinsi termiskin di Meksiko. Basis anggota mereka sebagian besar adalah masyarakat adat, tapi mereka juga mempunyai pendukung dari wilayah perkotaan seperti halnya dukungan jaringan internasional. Juru bicara mereka, tapi secara teknis bukanlah pemimpin mereka yang menyebut dirinya dengan sub-comandante, adalah Subcomandante Marcos. Seluruh comandante berasal dari suku Mayan, Indian Amerika.

Banyak kalangan menganggap bahwa gerakan Zapatista merupakan revolusi pasca-modern pertama: sebuah kelompok revolusioner bersenjata yang antikekerasan yang menggunakan teknologi modern telepon satelit dan internet sebagai suatu cara untuk menggalang dukungan domestik dan luar negeri. Mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari gerakan antiglobalisasi yang lebih luas.

Zapatista menuai perhatian dunia karena daya inspirasinya yang mereka sebar sejak awal. Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya bisa dilihat dari praktek kehidupan swadaya masyarakat adat.

Nama Zapatista diambil dari Emiliano Zapata, seorang tokoh revolusi Meksiko.

JIM MORISSON

Jim Morrison
Retrato de Jim Morrison



Kejenuhan terhadap atribut dan gaya Modern memengaruhi semua bidang. Dalam seni Andy Warhol menjadi sumber ide-ide pop art, dalam musik The Beatles mengangkat musik rock, serta musik blues mulai dihidupkan oleh orang-orang kulit putih.
Salah satu pemain dalam perkembangan musik era tersebut adalah The Doors yang beranggotakan Jim Morrison, Ray Manzarek, John Densmore dan Robby Krieger. Band ini cukup pendek umurnya — hanya empat tahun sejak dirilisnya album pertama — karena Jim Morrison sang vokalis meninggal dunia di Paris pada bulan Juli 1971 secara misterius (ada yang mengatakan overdosis LSD, misterius seperti kematian Jimi Hendrix dan Janis Joplin) dan dimakamkan di pemakaman Le Père Lachaise Cemetery, Paris. Sebelum berangkat Jim sempat menulis buku puisi dan melakukan rekaman yang kemudian dirilis menjadi album di tahun 1979 berjudul An American Prayer.

Jim yang terlahir 8 Desember 1943 sebagai James Douglas Morrison merupakan anak dari keluarga militer yang dididik sangat ketat. Salah satu kejadian yang penting bagi Jim adalah saat bepergian di New Mexico dan melihat Indian berdarah dan sekarat. Oliver Stone menggambarkan hal ini dalam filmnya yang berjudul sama — The Doors (1991), yang dibintangi oleh Val Kilmer dan Meg Ryan. Dulu saya nonton VHS-nya. Cukup mirip Val Kilmer berperan sebagai Jim hingga ada joke “Ada dua yang mirip dengan Jim Morrison: Pertama Val Kilmer dan kedua adalah Jim Morrison sendiri”.

Jim sebagai penulis lagu yang juga penulis puisi memberi warna vokal tersendiri pada grup The Doors. Lirik-lirik Jim sangat tajam dan kadang vulgar, namun inilah kekuatan The Doors di mata penggemarnya. Setiap konser yang dinanti adalah sosok Jim, aksi panggungnya selalu transenden (seperti mabuk dalam arti negatif) dan konsernya selalu berakhir dengan keributan.

Ray Manzarek yang memainkan organ membuat warna musik rock yang berbeda dengan grup musik lainnya. Instrumen organ akhirnya semakin banyak dipakai terutama pada band-band progressive rock seperti Pink Floyd, Yes dan Rush.

Momen penting lainnya pada era tersebut adalah konser Woodstock Festival di New York pada tahun 1969 yang dikunjungi 500.000 lebih penonton selama tiga hari di pertengahan Agustus. The Doors sendiri tidak ikut dalam festival ini, saya lupa karena apa, kalau tidak salah sedang menghadapi persidangan Miami karena ulahnya yang sering mabuk dan teler. Tahun 94 beberapa rekan di kampus patungan membeli film dokumenter Woodstock 1969 ini dalam bentuk Laser Disc sebanyak 3 disc (durasi film 4 jam lebih).

Berikut salah satu quote tentang dirinya sendiri:

I like ideas about the breaking away or overthrowing of established order. I am interested in anything about revolt, disorder, chaos, especially activity that seems to have no meaning. It seems to me to be the road towards freedom - external freedom is a way to bring about internal freedom.

Dan tentang kebebasan:

The most important kind of freedom is to be what you really are. You trade in your reality for a role. You trade in your sense for an act. You give up your ability to feel, and in exchange, put on a mask. There can’t be any large-scale revolution until there’s a personal revolution, on and individual level. It’s got to happen inside first. You can take away a man’s political freedom and you won’t hurt him- unless you take away his freedom to feel. That can destroy him. That kind of freedom can’t be granted. Nobody can win it for you.